Anak akan meniru tingkah laku kedua orang tuanya

| 10/29/2016 11:16:00 PM |


anak meniru orangtuanya
Sebuah kalimat pepatah mengatakan “ like father like son, like parent like children “, atau dalam bahasa indonesianya “ buah tidak jatuh dari pohonnya “. Jadi jika orang tuanya baik maka begitu juga dengan anaknya, begitu juga sebaliknya.

Banyak dari kita mungkin yang mengalami kekerasan-kekerasan pola asuh pada waktu kecil oleh orang tua kita, nah yang kemudian menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita kemudian merasa bahwa kita harus melampiaskan trauma-trauma kekerasan pola asuh itu pada anak kita ataukah membuat resolusi baru dengan tidak membiarkan kekerasan pola asuh itu terjadi pada anak kita ?

Pertanyaan Kepada Anak Untuk Orang Tua

Jadikan anak kita sebagai evaluator untuk merubah cara pola asuh yang lama dengan memberikan pertanyaan kepada anak kita, seperti ,

Apa salah bapak atau ibu, nak ?

Apa kekurangan bapak atau ibu, nak ?

Sudah bahagia belum jadi anak bapak atau ibu ?

Paling tidak itu adalah sebagian dari pertanyaan harian kita sebagai orang tua kepada anak kita. Dari
jawaban anak kita tersebut maka kita bisa telusuri dan menemukan jawabannya karena bagaimanapun juga kita tidak akan pernah bisa menjadi orang tua yang sempurna.

Semua orang tua pasti menginginkan mempunyai anak yang baik dan semua hal positif lainnya dan tidak akan pernah ada orang tua menginginkan anaknya menjadi sesuatu yang negatif. Maka mulailah dari diri kita untuk secara sadar belajar dan memberi contoh yang baik kepada anak kita.

Kisah Nyata Anak Meniru Orangtuanya

Berikut ada sebuah kisah nyata di negara kita semoga ini bisa menjadi renungan bagi kita :

Di sebuah taman bermain anak di daerah jakarta yang cukup ternama, karena permainannya terbatas sehingga untuk bisa bermain mereka melalui proses mengantri terlebih dahulu, dan di antrian tersebut berkumpul berbagai macam karakter anak, ada yang diam ada yang berteriak-teriak, bahkan ada yang menendang-nendang kakinya ke arah anak yang lain dan berbagai macam karakter anak lainnya.

Ternyata kalau dilihat karakter anak yang terbawa dalam proses antrian tersebut tidak beda jauh dengan karakter yang ada pada orang tuanya.

Yang sangat miris ada seorang anak yang berusaha menyerobot antrian dan yang terjadi ibunya bukannya melarang tetapi malah mendorong dan mengajarkan pada anaknya untuk menyerobot antrian itu walaupun itu salah.

Inilah potret dari masyarakat kita yang sebenarnya mereka tahu itu salah tetapi mereka tidak mau tahu yang penting mereka dapat.

Jadi secara sadar atau tidak sadar perbuatan yang tidak baik ini akan dijadikan panduan bagi anak kita bahwa apa yang dilakukannya adalah benar dan bukan masalah.

Maka dari itu kita para orang tua terutama yang sudah membaca artikel ini, semoga sadar dan berusaha untuk merubah diri menjadi lebih baik dengan menjadikan diri kita sebagai orang tua ini contoh dan teladan yang layak untuk diikuti oleh anak-anak kita.

Karena bagaimanapun kita sebagai orang tua pasti menginginkan semua hal yang terbaik untuk anak kita.
Back to Top