3 Metode Mendidik Anak Yang Perlu Orang Tua Ketahui

| 4/01/2017 08:37:00 PM |


metode mendidik anak

Mendidik anak memang gampang-gampang susah.
Bersikap bijak, sabar, tekun, ulet dan tegas tentu bukanlah hal yang mudah.
Tapi begitulah kenyataannya.
Mendidik anak tidak bisa hanya dengan bekal materi saja.

3 Metode Mendidik Anak

Ada beberapa hal metode yang digunakan dalam mendidik anak, diantaranya :

Metode Mendidik Anak Koersif

Metode ini biasanya digunakan oleh orang tua yang otoriter.
Artinya orang tua memegang kendali sepenuhnya atas segala hal yang diinginkan dan dilakukan anak.

Pola didik ini bertitik tumpu pada “reward & punishment”.
Pujian akan diberikan kepada anak jika si anak melakukan hal-hal yang sesuai dengan keinginan orang tua.

Sebaliknya hukuman akan diberikan saat anak melakukan sesuatu yang melenceng dari kehendak orang tua.

Sisi positif dari pola didik ini adalah bahwa si anak akan cepat tahu dan menngerti mana yang baik, mana yang kurang baik.

Sedangkan sisi negatifnya si anak akan selalu mencari perhatian dari lingkungannya, dengan segala cara yang bisa dilakukannya.

Akibatnya daya kritis si anak segala sesuatunya menjadi berkurang. Pola berpikirnya terobsesi pada pikiran orangtuanya.

Metode Mendidik Anak Permisif 

Pola didik permisif merupakan kebalikan dari pola didik koersif.
Bisa dikatakan pola didk ini merupakan penerapan kemandirian yang salah dan tidak sesuai dengan kaidah.

Dalam pola didik ini orang tua menyerahkan segalanya kepada anak karena menganggap anak akan mempunyai kebebasan dalam mengekspresikan semuanya agar bisa mandiri.

Jika anak melakukan kesalahan, orang tua akan dengan mudah memaklumi dan memaafkan segala hal yang diperbuatnya.

Pola didik ini biasanya berimbas pada pribadi anak yang cenderung liar dan memcari perhatian di luar rumah, karena anak tidak merasa diperhatikan oleh orangtuanya.

Metode Mendidik Anak Dialogis 

Pola didik ini adalah yang terbaik.
Menyayangi, memanjakan anak, melatih kemandirian, bersikap tegas dan mempunyai batasan tertentu merupakan poin penting dalam pola didik ini. orang tua adalah pemegang kendali itu memang benar adanya, namun tetap harus memperhatikan kondisi anak.

Bersikap tegas yang kaku tentu akan membuat anak menjadi tertekan dan stress. M
endidik menyesuaikan dengan kondisi emosi dan kecerdasan anak merupakan langkah terbaik dalam mendidik anak.

Untuk mendapatkan anak yang berkualitas (baik secara mental, spiritual atau akademis sekalipun), orang tua harus mengetahui batasan antara memberikan kebebasan dan melarang.

Ada saatnya memberikan hukuman namun di saat yang lain kita harus menghargai aktivitas dan tindakan anak.

Saat anak melakukan kesalahan, menunjukkan letak kesalahan (disertai dengan alasan yang rasional bagi anak) tentu akan lebih mengena di hati anak, daripada memvonisnya salah tanpa memberikan satu huruf pun letak kesalahannya.

Semua hal yang dilakukan anak pasti ada sebab akibatnya. Terangkan alasan mengapa hal tersebut dilarang terangkan juga dampaknya.
Demikian juga sebaliknya.

Anak dan orang tua kadang memang mempunyai pandangan yang berbeda.
Sebut saja Ahmad (4 tahun) hobi sekali merusak mainan yang baru dibelikan untuknya.

Membongkar-bongkar pakaian yang sudah dirapikan ibunya menjadi aktivitasnya setiap pagi dan sore hari menjelang mandi.

Ketika ditanya kenapa dia melakukan seperti itu (yang menurut kebanyakan orang tua adalah perilaku merusak dan merepotkan), jawabannya karena Ahmad ingin memilih sendiri baju kesukaannya dan masalah merusakkan mainan itu, dia ingin tahu bagaimana mainan itu dibuat, karena menurutnya si pembuatnya sungguh pintar dan Ahmad ingin jadi orang pintar seperti si pembuat mainan.

Orang tua yang tanggap dan mengetahui dunia anak, tentu perilaku Ahmad di atas akan dianggap sebagai sebuah perkembangan yang positif, karena dia ingin belajar dan belajar.

Percayalah bahwa saat anda melakukan hal yang sama seperti ahmad, sesungguhnya dia tidak berniat untuk membuat berantakan lemari pakaiannya atau merusak mainan yang baru anda belikan.
Back to Top